Unsafe Action Operator Forklift: Contoh, Risiko, dan Cara Mencegahnya

unsafe operator forklift

Forklift yang dikendalikan operator berpengalaman sekalipun tetap dapat menimbulkan kecelakaan ketika kebiasaan tidak aman mulai dianggap normal. Melaju terlalu cepat, mengabaikan pemeriksaan unit, membawa muatan dalam posisi tinggi, atau tidak memperhatikan pejalan kaki sering dilakukan karena pekerjaan ingin diselesaikan lebih cepat.

Perilaku tersebut dikenal sebagai unsafe action operator forklift, yaitu tindakan operator yang menyimpang dari prosedur aman dan meningkatkan kemungkinan terjadinya tabrakan, muatan jatuh, forklift terguling, kerusakan barang, atau pekerja tertabrak.

Masalahnya, unsafe action tidak selalu muncul karena operator tidak peduli. Target produksi, pengawasan yang lemah, jalur kerja yang buruk, SOP yang tidak ditegakkan, dan pelatihan yang tidak memadai juga dapat membentuk kebiasaan tidak aman.

Apa Itu Unsafe Action Operator Forklift?

Unsafe action operator forklift adalah tindakan atau keputusan operator yang membuat pengoperasian forklift menjadi lebih berbahaya daripada seharusnya.

Tindakan ini dapat dilakukan dengan sengaja, misalnya tetap mengoperasikan forklift yang remnya bermasalah. Namun, unsafe action juga dapat terjadi karena operator tidak mengetahui risiko, salah memahami kapasitas unit, terbiasa mengambil jalan pintas, atau merasa terlalu percaya diri karena sudah lama bekerja.

Karena itu, perusahaan tidak cukup hanya menyalahkan operator. Perilaku operator harus dievaluasi bersama kondisi unit, tata letak area kerja, tekanan pekerjaan, kualitas pengawasan, dan sistem pelatihan.

Contoh Unsafe Action Operator Forklift yang Sering Terjadi

1. Tidak melakukan pemeriksaan sebelum digunakan

Operator langsung menyalakan dan menjalankan forklift tanpa memeriksa rem, ban, klakson, lampu, sistem kemudi, rantai, garpu, kebocoran hidraulik, serta kondisi sabuk pengaman.

Pemeriksaan sebelum penggunaan diperlukan agar kerusakan yang dapat membuat forklift tidak aman terdeteksi sebelum unit masuk ke area operasional. Panduan keselamatan OSHA juga mengarahkan agar forklift diperiksa sebelum digunakan dan tidak dioperasikan apabila ditemukan kondisi berbahaya.

Checklist tidak boleh sekadar ditandatangani. Operator harus memahami komponen yang diperiksa dan tindakan yang harus dilakukan apabila menemukan kerusakan.

2. Mengoperasikan forklift tanpa kualifikasi yang sesuai

Kemampuan memajukan, memundurkan, dan mengangkat palet belum cukup untuk menjadikan seseorang operator yang aman.

Permenaker Nomor 8 Tahun 2020 mengatur bahwa pengoperasian pesawat angkat dan pesawat angkut harus dilakukan oleh operator dengan kualifikasi sesuai jenis serta kapasitas peralatannya. Ketentuan tersebut juga mengatur klasifikasi operator forklift dan persyaratan sertifikat kompetensi serta Lisensi K3.

Perusahaan harus memastikan operator tidak hanya “bisa membawa forklift”, tetapi juga memahami kapasitas, stabilitas, pemeriksaan unit, prosedur darurat, serta kondisi area kerja.

Baca juga: 5 keterampilan wajib yang harus dimiliki operator forklift.

3. Tidak menggunakan sabuk pengaman

Sebagian operator merasa sabuk pengaman membatasi gerakan, terutama ketika harus sering melihat ke belakang. Anggapan ini berbahaya.

Permenaker Nomor 8 Tahun 2020 mensyaratkan kabin operator dilengkapi sabuk pengaman yang mampu menahan tekanan kejut. Sebagai praktik keselamatan, OSHA juga mengarahkan operator untuk menggunakan sabuk pengaman ketika forklift menyediakannya.

Sabuk pengaman membantu mempertahankan operator di dalam area perlindungan forklift ketika terjadi benturan atau unit terguling. Melompat keluar saat forklift mulai terguling justru dapat menempatkan operator pada jalur jatuhnya unit.

4. Melaju terlalu cepat dan bermanuver agresif

Forklift tidak memiliki karakteristik kemudi dan kestabilan yang sama dengan mobil. Bagian belakang forklift dapat menyapu ke samping ketika berbelok karena banyak forklift menggunakan kemudi roda belakang.

Melaju terlalu cepat, berbelok tajam, mengerem mendadak, atau mengubah arah secara agresif dapat menggeser pusat gravitasi gabungan forklift dan muatan. Risikonya semakin tinggi ketika lantai licin, beban tidak stabil, atau area kerja dipenuhi pejalan kaki.

Permenaker mengatur bahwa pesawat angkut bermotor harus dijalankan secara aman sesuai kecepatan yang telah ditentukan. Batas kecepatan internal juga perlu mempertimbangkan kondisi permukaan, jarak berhenti, muatan, pandangan operator, dan lalu lintas pekerja.

Pembahasan lebih spesifik tersedia dalam artikel bahaya mengoperasikan forklift di lantai basah dan licin.

5. Berjalan dengan garpu atau muatan terlalu tinggi

Membawa muatan dalam posisi tinggi memperbesar blind spot dan membuat forklift lebih mudah kehilangan kestabilan.

Pasal 85 Permenaker Nomor 8 Tahun 2020 mengatur bahwa ketika forklift berjalan, garpu atau permukaan bagian bawah muatan berada paling tinggi 15 sentimeter dari permukaan landasan.

Ketinggian tersebut bukan target yang harus selalu dicapai. Operator tetap perlu menyesuaikan posisi garpu dengan kondisi permukaan, hambatan, serta petunjuk pabrikan tanpa mengangkat muatan lebih tinggi dari yang diperlukan.

6. Mengabaikan kapasitas dan posisi titik berat beban

Unsafe action tidak hanya terjadi ketika berat muatan melebihi angka kapasitas forklift. Beban yang beratnya masih di bawah kapasitas dapat menjadi tidak aman apabila terlalu panjang, tidak seimbang, ditempatkan di ujung garpu, atau memiliki titik berat yang jauh dari sandaran muatan.

Operator harus memeriksa data plate, kapasitas unit, load center, attachment yang digunakan, kondisi palet, serta kestabilan muatan. OSHA juga mengarahkan agar kapasitas terukur tidak dilampaui dan muatan dipastikan stabil serta seimbang.

Pelajari lebih lanjut melalui artikel load center forklift dan pengaruhnya terhadap kapasitas.

7. Mengabaikan pejalan kaki dan blind spot

Forklift dapat muncul dari lorong rak, pintu gudang, persimpangan, atau area loading dengan pandangan terbatas. Operator yang tidak mengurangi kecepatan, tidak membunyikan klakson, atau memotong jalur pejalan kaki sedang menciptakan risiko tabrakan.

Pengendalian tidak boleh hanya mengandalkan kewaspadaan operator. Perusahaan perlu memisahkan jalur forklift dan pejalan kaki sejauh memungkinkan, memasang marka, cermin tikungan, barrier, rambu, serta menetapkan aturan prioritas di persimpangan.

8. Mengoperasikan forklift sambil terdistraksi

Melihat ponsel, berbicara panjang melalui alat komunikasi, bercanda, makan, atau mengoperasikan kontrol sambil tidak memperhatikan arah gerak adalah bentuk distraksi.

Beberapa detik kehilangan fokus sudah cukup untuk membuat operator tidak melihat pekerja yang melintas, ujung rak, palet di lantai, atau perubahan permukaan jalan.

Apabila komunikasi harus dilakukan, operator sebaiknya berhenti di lokasi aman, menurunkan garpu, mengaktifkan rem parkir, kemudian menyelesaikan komunikasi sebelum kembali bekerja.

9. Membawa penumpang atau menggunakan forklift tidak sesuai fungsi

Forklift bukan kendaraan antarjemput pekerja. Penumpang tidak boleh berdiri di atas garpu, duduk di counterweight, bergantung pada mast, atau ikut berada di dalam kabin yang hanya dirancang untuk satu operator.

Permenaker Nomor 8 Tahun 2020 juga menegaskan bahwa forklift tidak boleh digunakan untuk tujuan lain selain mengangkat, mengangkut, dan meletakkan muatan atau barang. OSHA secara khusus melarang operator membawa penumpang pada forklift.

Mengangkat orang menggunakan palet biasa atau berdiri langsung di atas garpu merupakan penyalahgunaan fungsi forklift. Pekerjaan di ketinggian membutuhkan peralatan dan prosedur yang memang dirancang untuk mengangkat personel.

10. Meninggalkan forklift dalam kondisi tidak aman

Kesalahan sering terjadi setelah pekerjaan dianggap selesai. Operator meninggalkan kunci di unit, garpu masih terangkat, kontrol belum netral, atau forklift diparkir di area yang menghalangi jalur darurat.

Permenaker mengatur forklift yang sedang tidak digunakan harus ditempatkan pada landasan rata, rem terkunci, dan sisi terbawah garpu menyentuh permukaan landasan. Panduan OSHA juga mengarahkan operator untuk menurunkan garpu sepenuhnya, menetralkan kontrol, mengaktifkan rem parkir, dan memarkir unit di area yang diizinkan.

Mengapa Unsafe Action Terus Berulang?

Perilaku tidak aman jarang berdiri sendiri. Beberapa penyebab yang paling sering ditemukan adalah:

  • target pekerjaan mendorong operator mengambil jalan pintas;
  • supervisor membiarkan pelanggaran kecil;
  • operator senior merasa pengalaman dapat menggantikan prosedur;
  • checklist hanya menjadi administrasi;
  • jalur forklift dan pejalan kaki tidak dipisahkan;
  • unit bermasalah tetap dipakai karena tidak ada pengganti;
  • operator belum mendapatkan pelatihan yang sesuai;
  • pelaporan kerusakan atau near miss tidak ditindaklanjuti.

Apabila pelanggaran yang sama dilakukan oleh banyak operator, jangan buru-buru menyimpulkan semua operator ceroboh. Kemungkinan besar terdapat kelemahan pada sistem kerja, pengawasan, fasilitas, atau budaya keselamatan perusahaan.

Cara Mencegah Unsafe Action Operator Forklift

Tindakan untuk operator

  1. Lakukan pemeriksaan sebelum unit digunakan.
  2. Gunakan sabuk pengaman apabila tersedia.
  3. Sesuaikan kecepatan dengan area, muatan, dan visibilitas.
  4. Bawa garpu atau muatan serendah mungkin sesuai ketentuan.
  5. Periksa data plate dan kestabilan muatan.
  6. Kurangi kecepatan serta bunyikan klakson di blind corner.
  7. Hentikan pekerjaan apabila unit atau area tidak aman.
  8. Parkirkan forklift sesuai prosedur setelah selesai.
  9. Laporkan kerusakan dan near miss tanpa menunggu kecelakaan.

Tindakan untuk perusahaan

  1. Pastikan operator memiliki kualifikasi dan kewenangan yang sesuai.
  2. Pisahkan jalur forklift dari pejalan kaki.
  3. Tetapkan batas kecepatan berdasarkan penilaian risiko area.
  4. Terapkan inspeksi harian yang benar-benar diverifikasi.
  5. Berikan pelatihan ulang setelah pelanggaran, near miss, kecelakaan, perubahan unit, atau perubahan area kerja.
  6. Evaluasi target produksi yang mendorong tindakan tidak aman.
  7. Terapkan konsekuensi yang konsisten terhadap pelanggaran.
  8. Berikan kewenangan kepada operator untuk menghentikan pekerjaan yang tidak aman.

Checklist Singkat Sebelum Menjalankan Forklift

Sebelum mulai bekerja, pastikan:

  • operator berwenang dan dalam kondisi sehat;
  • rem, kemudi, klakson, lampu, ban, garpu, mast, dan hidraulik dalam kondisi layak;
  • sabuk pengaman dapat digunakan;
  • kapasitas dan load center sesuai dengan muatan;
  • palet serta muatan stabil;
  • jalur bebas dari tumpahan, penghalang, dan pekerja;
  • tidak ada kebocoran atau kerusakan abnormal;
  • batas kecepatan dan rute kerja telah dipahami.

Apabila salah satu kondisi tidak terpenuhi, hentikan penggunaan forklift dan laporkan kepada penanggung jawab.

FAQ tentang Unsafe Action Operator Forklift

Apakah unsafe action selalu menjadi kesalahan operator?

Tidak. Perilaku operator dapat dipengaruhi target kerja, kondisi forklift, desain jalur, pengawasan, pelatihan, dan budaya perusahaan. Investigasi harus melihat tindakan operator sekaligus kelemahan sistem.

Apakah operator berpengalaman masih membutuhkan pelatihan?

Ya. Pengalaman membantu keterampilan, tetapi tidak otomatis menjamin pemahaman regulasi, kapasitas, stabilitas, pemeriksaan unit, atau prosedur terbaru. Kebiasaan lama yang tidak aman juga dapat terbawa selama bertahun-tahun.

Apakah memiliki SIO membuat operator otomatis aman?

Tidak. Sertifikat kompetensi dan Lisensi K3 merupakan bagian penting dari kualifikasi operator, tetapi keselamatan tetap bergantung pada penerapan pengetahuan, kondisi unit, pengawasan, dan kepatuhan terhadap SOP.

Apa yang harus dilakukan ketika forklift ditemukan rusak?

Jangan melanjutkan pengoperasian apabila kerusakan dapat memengaruhi keselamatan. Amankan unit, tandai agar tidak digunakan, dan laporkan kepada atasan atau bagian pemeliharaan sesuai prosedur perusahaan.

Apakah pemula boleh belajar mengoperasikan forklift?

Boleh melalui pelatihan yang terstruktur dan diawasi instruktur kompeten. Pemula tidak seharusnya belajar dengan mencoba sendiri menggunakan forklift operasional di tempat kerja.

Hentikan Kebiasaan Tidak Aman Sebelum Menjadi Normal

Unsafe action operator forklift sering dimulai dari pelanggaran kecil yang dibiarkan berulang. Setelah menjadi kebiasaan, operator dan orang di sekitarnya dapat kehilangan kepekaan terhadap risiko.

Operator perlu disiplin menjalankan prosedur. Namun, perusahaan juga harus menyediakan unit yang layak, jalur aman, target kerja realistis, pelatihan yang memadai, dan pengawasan yang konsisten.

Bagi calon operator yang belum memiliki pengalaman, Khazhen Training menyediakan pelatihan operator forklift untuk pemula dari tahap dasar. Operator dan perusahaan juga dapat berkonsultasi mengenai program pelatihan SIO Forklift Kemnaker sesuai pengalaman, kualifikasi, dan kebutuhan operasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *